Terumbu karang

Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimentasi kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.

Dalam peristilahan ‘terumbu karang’, “karang” yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.

Dalam banyak publikasi internasional ‘terumbu karang’ sering juga disebut secara singkat dengan ‘terumbu’ saja karena keduanya sama artinya, misalnya ‘ikan terumbu karang’ disebut sebagai ‘ikan terumbu’. Di Indonesia, sebagian penulis menggunakan istilah ‘ikan karang’ yang salah kaprah. Jenis-jenis koral meliputi Acropora spp, Porites spp., Favia spp. dan lain-lain. Jenis-jenis terumbu atau terumbu karang meliputi atoll, terumbu penghalang, dan terumbu tepi.

Di dalam terumbu karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan kapur untuk kerangka tubuhnya,karang merupakan komponen yang terpenting dari ekosistem tersebut. Baik buruknya kondisi suatu ekossistem terumbu karang dilihat dari komunitas karangnya. Kehadiran karang di terumbu akan diikuti oleh kahadiran ratusan biota lainnya (ikan, invertebrata, algae), sebaliknya hilangnya karang akan diikuti oleh perginya ratusan biota penghuni terumbu karang. Disamping menghasilkan sedimen kapur pembentuk terumbu, karang juga meningkatkan kompleksitas dan produktivitas ekosistem. Karang kadangkala disebut juga sebagai karang batu (karang yang keras seperti batu) atau karang terumbu (karang yang menghasilkan kapur pembentuk terumbu). Hal ini untuk membedakannya dengan karang lunak. Jika istilah karang digunakan secara sendiri maka itu mengacu pada karang batu atau karang terumbu, bukan karang lunak. Karang mendapatkan makanan sebagian besar (>70%)dari algae zooxanthellae yang terdapat di dalam tubuhnya sedangkan sisanya ia dapat memakan plankton atau bahkan sedimen.

Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut utama, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia (Walters, 1994 dalam Suharsono, 1998).

Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang Dunia (Cesar 1997) dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi. Menurut Cesar (1997) estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah pemanfaatan sumber daya ikan, batu karang, pariwisata, penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya. Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah seperti fungsi terumbu karang sebagai penahan abrasi pantai, keanekaragaman hayati dan lain sebagainya.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Biologi Karang

Pada ekosistem terumbu karang, karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan yang menyediakan banyak habitat bagi ribuan penghuni ekosistem terumbu karang yang lainnya, misalnya ikan, algae, dan invertebrata. Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel. Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni (Sorokin, 1993). Berdasarkan kepada kemampuan memproduksi kapur maka karang dibedakan menjadi dua kelompok yaitu karang hermatipik dan karang ahermatipik. Karang hermatifik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan didaerah Tropis. Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas diseluruh dunia. Perbedaan utama karang Hermatipik dan karang ahermatipik adalah adanya Simbiosis mutualisme antara karang hermatipik dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae Uniselular (Dinoflagellata unisular), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan Fotosintesis. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang. Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat Fototropik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Disamping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32°C (Nybakken, 1982). Menurut Veron (1995) terumbu karang merupakan endapan massif (deposit) padat Kalsium (CaCo3) yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (Calcareous algae) dan organisme -organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat (CaCo3). Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleractina ) merupakan penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu (reef -building corals). Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota Filum Coelenterata yang hanya mempunyai stadium polip. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi. Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik). Menurut Sumich (1992) dan Burke et al. (2002) sebagian besar spesies karang melakukan simbiosis dengan alga simbiotik yaitu zooxanthellae yang hidup di dalam jaringannya. Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae. Selanjutnya Sumich (1992) menjelaskan bahwa adanya proses fotosintesa oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut: Ca (HCO3) CaCO3 + H2CO3 H2O + CO2 Fotosintesa oleh algae yang bersimbiose membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposist cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae. Veron (1995) dan Wallace (1998) mengemukakan bahwa ekosistem terumbu karang adalah unik karena umumnya hanya terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Suharsono (1999) mencatat selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3°C di atas suhu normal.

[sunting] Indo-Pasifik

Regional Indo-Pasifik terbentang mulai dari Indonesia sampai ke Polinesia dan Australia lalu ke bagian barat ialah Samudera Pasifik sampai Afrika Timur. Regional ini merupakan bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan, dan moluska.

Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan daratan (land masses) terdapat tiga klasifikasi terumbu karang atau yang sampai sekarang masih secara luas dipergunakan.

[sunting] Terumbu atau Reef

Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup)di laut dangkal.

[sunting] Karang atau Coral

Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal yang akrab dengan kita adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas. Karang terdiri atas banyak polip seperti bambu terdiri atas banyak ruas tersebut.

[sunting] Karang terumbu

Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.

[sunting] Terumbu karang

Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton

[sunting] Jenis-jenis terumbu karang

[sunting] 1. Terumbu karang tepi (fringing reefs)

Terumbu karang tepi atau karang penerus berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).

[sunting] 2. Terumbu karang penghalang (barrier reefs)

Terumbu karang ini terletak pada jarak yang relatif jauh dari pulau, sekitar 0.5­2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus. Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).

[sunting] 3. Terumbu karang cincin (atolls)

Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau­pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.

[sunting] 4. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs)

Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal. Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)

[sunting] Zonasi terumbu karang

[sunting] Windward reef (terumbu yang menghadap angin)

Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh reef slope atau lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di reef slope, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu atau reef front yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.

Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu (patch reef), di bagian atas reef front terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga atau algal ridge. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu (reef flat) yang sangat dangkal.

[sunting] Leeward reef (terumbu yang membelakangi angin)

Leeward merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.

. Latar Belakang
Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang penting di laut. Untuk ekosistem terumbu karang World Resource Institute (WRI) (2002) mengestimasi bahwa luas terumbu karang di Indonesia adalah sekitar 51.000 km2. Angka ini belum mencakup terumbu karang di wilayah terpencil yang belum dipetakan atau yang berada di perairan agak dalam (inland waters).Jika estimasi ini akurat maka 51% terumbu karang di Asia Tenggara atau 18% terumbu karang di dunia berada di perairan Indonesia.Sebagian besar dari terumbu karang ini bertipe terumbu karang tepi ( fringing reefs) yang berdekatan dengan garis pantai sehingga mudah diakses oleh masyarakat sekitar.Lebih dari 480 jenis karang batu(hard coral) telah didata di wilayah timurIndonesia dan merupakan 60% dari jeniskarang batu di dunia yang telah berhasil dideskripsikan.Keanekaragaman tertinggi ikan karang di dunia juga ditemukan di Indonesia dengan lebih dari 1.650 jenis hanya untuk wilayah Indonesia bagian timur.

Sebagai salah satu ekosistem utama pesisir dan laut, terumbu karang dengan beragam biota asosiatif dan keindahan yangmempesona, memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi.Selain berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan arus kuat, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis antara lain sebagai habitat, tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar serta tempat pemijahan bagi berbagai biota laut. Nilai ekonomis terumbu karangyang menonjol adalah sebagai tempat penangkapan berbagai jenis biota lautkonsumsi dan berbagai jenis ikan hias, bahan konstruksi dan perhiasan, bahan baku farmasi dan sebagai daerah wisata serta rekreasi yang menarik.
Distribusi dari larva karang sangat penting untuk diamati karena berperan besar dalam penyebaran terumbu karang dan kelangsungan hidup karang tersebut. Dalam makalah ini dibahas pola distribusi karang, metode pendistribusian, dan hambatan yang dihadapi.

2.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Distribusi karang sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi penyebaran larva karang. Faktor-faktor tersebut ada yang berpengaruh positif dan berpengaruh negatif.
Faktor lingkungan yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan larva karang antara lain adalah: arus, sinar matahari, suhu perairan, kejernihan air dan dasar laut keras.Arus berperan sangat penting bagi kehidupan karang. Arus tidak hanya membantu penyebaran larva karang, oksigen dan makanan, melainkan juga menyebarkan air hangat yang sangat diperlukan untuk pengembangan alat reproduksi dan pembuatan kerangka dari kapur bagi karang batu (Wood, 1983). Perairan yang jernih dan sinar matahari erat kaitannya dengan proses fotosintesis zooxanthella yang membantu karang batu dalam pembentukan kerangka dari kapur. Sedangakan dasar keras diperlukan bagi penempelan larva karang batu yang siap membentuk koloninya.
Faktor lingkungan yang berpengaruh negatif atau menghambat bahkan merusak kehidupan larva karang antara lain adalah: bencana alam seperti taupan, gempa, tsunami dan Elnino; faktor antropogenik (yang berasal dari ulah manusia) termasuk sedimentasi, pencemaran laut oleh limbah (domestik dan indistri), akibat kegiatan manusia secara langsung seperti penggunaan bom dan obat beracun untuk menangkap ikan di terumbu karang, penambangan karang dan pemasangan bubu di terumbu karang; faktor biologi seperti adanya predator pemakan polip karang, (Acanthaster planci, Drupella), pathogenic desase (Hughes et al, 1985) dan yang tidak kalah pentingnya dalam masalah pertumbuhan karang ini adalah adanya kompetisi ruang diantara biota bentos di terumbu karang (O.Naim et al, 2000) dan Over fishing (L.L.Cho et al, 2000).Overfishing menyebabkan berkurangnya jenis ikan herbivor yang dapat menimbulkan ledakan populasi makroalgae.
Pengaruh langsung dari sedimentasi terhadap larva karang batu dapat berupa kematian karena terbenam, pengurangan kecepatan tumbuh karena geseran partikel endapan, menghambat proses fotosintesis zooxanthella, berkurangnya kelimpahan dan keanekaragaman jenis, berkurangnya persen tutupan karang hidup dan mengurangi kecepatan pemulihan terumbu karang (Cooper et al, 2000), sedangkan banyaknya nutrisi yang secara terus menerus masuk ke dalam ekosistem terumbu karang dapat menyebakan meningkatnya populasi makroalgae dan phytoplankton dan berkurangnya populasi karang batu (Hunter and Evans, 1995). Endapan juga dapat menghalangi proses penempelan larva karang (coral recruitment) (Babcock et al, 2000).

2.2. Distribusi Larva
Beberapa jenis karang fertilisasi antara gamet jantan dan gamet betina dapat terjadi di luar dan di dalam tubuh induk. Larva karang yang dilepaskan dapat bertahan dalam beberapa jam hingga bulan, karena mempunyai tetes-tetes lemak yang dapaat dipakai sebagai cadangan makanan. Larva yang terbetuk akan berenang-renang sebelum menempel pada substrat tertentu.
Larva bergerak mengapung pada daerah pelagik dan digerakkan oleh arus selama beberapa jam, hari, ataupun beberapa bulan. Larva karang dapat bergerak sampai jarak 1 – 1000 km. Jarak dan pola distribusi larva dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempengaruhi lama waktu larva mengapung sampai mencapai terumbu, yaitu:
1. Perilaku larva: kecepatan renang dan kemampuan directional.
2. Jangka waktu Larva: sejumlah larva menghabiskan waktu di lautan terbuka tergantung pada spesies larvanya. Antara beberapa jam sampai beberapa bulan dan jangka waktu larva pelagic secara umumnya adalah 28 – 35 hari.
3. Sumber makanan: sejumlah makanan tersedia selama jangka waktu pelagik.
4. Pemangsa: pemangsa mempengaruhi survival saat masa pelagik, kondisi larva, dan laju pertumbuhan.
5. Pengaruh faktor oseanografi lainnya.

Larva planula akan dapat melanjutkan ke tahap penempelan pada dasar perairan bila kondisi substrat mendukung seperti: cukup kokoh tidak ditumbuhi alga, arus cukup untuk adanya makanan , penetrasi cahaya cukup agar zooxanthella bisa tumbuh, dan sedimentasi rendah.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyebaran karang di dunia, salah satu faktornya adalah ketahanan hidup dari fase larva karang sehingga mempengaruhi penyebaran yang jauh dan terdapat larva yang hanya bertahan dalam hitungan jam dan menyebar berkembang di dekat induknya.

2.3. Waktu Distribusi
Reproduksi seksual karang karang menghasilkan larva planula yang berenang bebas dan bila larva itu menetap di dasar maka akan berkembang menjadi koloni baru. Karang mencapai dewasa seksual pada usia antara 7-10 tahun. Karang dapat bersifat hermafrodit atau dioecius. Pembuahan umumnya terjadi di dalam gastrovaskuler induk betina, sperma dilepaskan ke dalam air dan akan masuk di dalam ruang gastrovaskuler. Telur-telur yang dibuahi biasanya ditahan sampai perkembangannya mencapai stadium larva planula. Planula dilepaskan dan berenang dalam perairan terbuka untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, tetapi mungkin hanya beberapa hari, sebelum menetap dan memulai suatu koloni baru. Bila larva dewasa akan menetap di suatu tempat, larva planula merupakan alat penyebar dari berbagai spesies karang.
Waktu spawning karang menjadi penting karena berkaitan erat dengan kelangsungan kehidupan suatu jenis karang. Kesesuaian waktu spawning dengan kondisi arus samudra saat itu akan menentukan penyebaran larva karang dan distribusi karang. Penentuan waktu spawning suatu jenis karang sangat dipengaruhi oleh proses perkembangan gonad karang pada setiap jenis karang. Perkembangan gonad karang di beberapa wilayah subtropics berlangsung pada kondisi perairan yang hangat, dari musim semi hingga musim panas (Richmond dan Hunter, 1990), sehingga diperkirakan spawning karang di wilayah tropis berlangsung sepanjang tahun. Namun hasil pengamatan di beberapa wilayah menunjukkan bahwa spawning time bervariasi antar wilayah yang berbeda letak lintangnya. Bahkan saat pemijahan karang berbentuk koloni memiliki perbedaan waktu baik antar-populasi, antar-koloni maupun antar bagian/cabang dalam satu koloni.
Spawning karang di Great Barrier Reef-Australia terjadi pada musim semi, sedangkan komunitas karang di Pasifik Tengah, Okinawa dan Laut Merah melakukan spawning pada waktu musim panas (Richmond dan Hunter, 2000). Perbedaan waktu spawning dapat terjadi antar jenis dan lokasi. Sebagaimana hasil studi Edinger et al. (1996) yang melaporkan kejadian spawning karang massal di Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah pada Oktober-Nopember 1995 yang terjadi setelah bulan purnama. Diantara jenis-jenis dari genus Acropora yang memijah adalah Acropora spp, Acropora humilis, A. hyacinthus, A. verwey dan A. echinata. Kejadian ini menegaskan bahwa informasi waktu spawning karang Acropora bersifat tahunan dan berbeda waktunya antara wilayah satu dengan lainnya.
Karang Acropora aspera di Pulau Panjang, Jawa Tengah memperlihatkan musim reproduksi yang berbeda dibanding Acropora di Kep. Karimunjawa. Munasik dan Azhari (2002) menemukan polip karang yang mengandung telur matang berwarna orange di bulan Maret-April. Diperkirakan spawning karang tersebut terjadi pada bulan April. Pengamatan spawning karang di lapangan pada bulan purnama telah dilakukan tetapi tidak mendapatkan hasil. Untuk itu studi tingkah laku spawning karang A. aspera dilakukan di akuarium serta diamati pula perkembangan embrio.

2.4. Metode Penyebaran
Untuk mengetahui cara menyebar dari larva karang, sebelum itu harus diketahui terlebih dahulu mengenai pengertian dari larva karang. Larva karang adalah larva planula hasil pembentukan secara seksual dari koloni karang, baik itu pembuahan secara internal maupun secara eksternal (Timotius, S. in Biologi Terumbu Karang). Setelah mengenal sedikit tentang larva karang, larva karang memiliki sifat-sifat bawaan sesuai dengan induknya masing-masing antara lain adalah kecepatan renang dan kemampuan menuju ke arah tertentu sesuai dari jenis spesies masing-masing (anonima, 2009).
Dari sifat larva yang diketahui, sehingga dapat diketahui bahwa larva pada jenis karang tertentu akan menempel pada tipe karakteristik perairan tertentu. Misal pada larva yang akan menjadi terumbu karang bertipe massive akan memilih perairan yang memiliki sedimentasi rendah, berbeda dengan terumbu karang yang memiliki brenching lifeform yang dapat hidup di daerah dengan sedimentasi yang cukup tinggi dan umumnya menempel pada substrat yang berbentuk wall ( Dunno, 1982 in Babcock, R. , 2000).

2.5. Manfaat
Karang memiliki kemampuan reproduksi secra seksual maupun secara aseksual. Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan ovum (fertilisasi). Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi, juga melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva, penempelan baru kemudian pertumbuhan dan pematangan). Perseberan larva yang terbentuk ini akan memberikan dampak terhadap lingkungan, diantaranya adalah jika terdapat daerah terumbu karang yang baru mengalami kerusakan maka akan dapat terkolonisasi dengan cepat jika karang yang bertahan di sekitarnya sering bereproduksi dengan menghasilkan larva yang melekat di sekitar koloni induk (Szmant 1986, Sammarco & Andrews 1988). Selain itu daerah perseberan larva bisa sangat jauh (puluhan atau ratusan meter dari induk) maka persebaran spesies akan semakin merata dan mencapai daerah tertentu sehingga kepunahan dari spesies karang tersebut dapat berkurang. Selain itu larva karang juga dimanfaatkan oleh biota lain sebagai sumber makanan.

About erghimuhammad2412

,,,,,
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s